IGRS akhirnya masuk ke Steam. Secara teori, ini langkah besar. Indonesia sekarang punya sistem rating sendiri yang langsung tampil di platform global. Harapannya sederhana: pemain lebih terlindungi, orang tua lebih tenang, dan distribusi game jadi lebih tertata.
Tapi begitu mulai jalan, yang terjadi justru kebalikannya.
Alih-alih jadi panduan, banyak gamer malah bingung. Bahkan tidak sedikit yang bilang sistem ini terasa “ngaco”. Bukan karena niatnya salah, tapi karena hasilnya sering tidak masuk akal.
Harusnya Simpel, Tapi Kenyataannya Tidak
Struktur IGRS sebenarnya tidak rumit:
3+, 7+, 13+, 15+, 18+, dan Not Fit for Distribution.
Kalau dipahami secara normal:
- 3+ itu benar-benar aman buat anak kecil
- 18+ jelas konten dewasa
- Not Fit artinya bahkan tidak boleh dijual
Harusnya ini gampang dipahami siapa pun. Tapi di Steam, implementasinya justru bikin banyak orang bertanya-tanya.
Bagian Paling Viral: Game Dewasa Jadi 3+
Ini yang paling sering dibahas dan jadi bahan perdebatan di komunitas.
Beberapa game dengan konten yang jelas tidak cocok untuk anak-anak malah dapat rating paling rendah:
- Nukitashi
Visual novel dengan konten seksual eksplisit, tapi diberi rating 3+. Ini jadi contoh paling sering disebut. - VR Kanojo
Game simulasi dengan nuansa dewasa juga dilaporkan masuk 3+. - GTA San Andreas
Game penuh kekerasan, kriminalitas, dan senjata, tapi masuk kategori anak-anak. - PUBG
Game tembak-menembak realistis, tapi tidak dikategorikan sebagai kekerasan. - DOOM Eternal
Game brutal lawan iblis, tapi disebut masuk kategori usia rendah di beberapa temuan. - Balatro
Game kartu dengan elemen risiko, tetap masuk 3+ tanpa penjelasan jelas.
Di titik ini, banyak gamer mulai melihat pola:
👉 sistem tidak membaca konten secara utuh
Lebih Aneh Lagi: Game Santai Justru 18+
Kalau tadi terasa kebalik, yang ini makin memperkuat kesan itu.
Beberapa game yang sebenarnya ringan justru kena rating tinggi:
- Umamusume: Pretty Derby
Game anime santai, tapi kena 18+ karena dianggap ada unsur judi. - Dota 2
Game kompetitif, tapi dikasih 18+ dengan alasan rokok, zat adiktif, dan horor. - A Space for the Unbound
Game lokal dengan cerita emosional, juga masuk 18+. - Game Upin & Ipin
Bahkan game bertema anak-anak ini sempat disebut kena rating tinggi.
Di sini mulai muncul kesimpulan dari komunitas:
👉 sistemnya bukan cuma salah, tapi tidak konsisten
Not Fit for Distribution: Serius Tapi Tanggung
Selain rating umur, ada label yang lebih berat:
Not Fit for Distribution
Artinya game tidak boleh diedarkan di Indonesia.
Beberapa game besar yang kena label ini:
- GTA V
- Cyberpunk 2077
- The Witcher 3
- Persona 5 Royal
- Rust
- Ready or Not
- Expedition 33
- Metaphor ReFantazio
Kalau dilihat dari kontennya, alasan seperti kekerasan atau nudity memang ada.
Tapi masalahnya:
👉 semua game ini masih bisa dibeli di Steam Indonesia
Jadi statusnya jadi aneh:
- secara aturan tidak layak
- tapi secara praktik masih dijual
Ini bikin banyak orang bertanya, sebenarnya ini warning saja atau bakal jadi ban beneran?
Kenapa Bisa Seperti Ini?
Dari berbagai diskusi, ada beberapa dugaan yang cukup masuk akal.
1. Terlalu mengandalkan sistem otomatis
Kemungkinan besar sistem hanya membaca:
- tag
- deskripsi
- data input
bukan gameplay sebenarnya.
2. Data lama tidak akurat
Game seperti GTA San Andreas mungkin tidak punya data yang sesuai dengan sistem baru, jadi hasilnya kacau.
3. Keyword jadi penentu utama
Contoh:
- ada kata “judi” → langsung 18+
- tapi kekerasan atau seksual bisa tidak terdeteksi
4. Minim pengecekan manual
Tidak semua game diperiksa secara langsung. Ini bikin banyak kesalahan lolos.
Masalah Besarnya: Sistem Tidak Paham Konteks
Ini yang paling sering dikeluhkan.
Di sistem lain seperti ESRB atau PEGI, yang dilihat itu:
- bagaimana konten disajikan
- seberapa sering muncul
- apakah eksplisit atau hanya naratif
Sedangkan di sini, banyak yang merasa:
👉 semua dianggap sama rata
Akibatnya:
- konten ringan bisa dianggap berat
- konten berat bisa dianggap ringan
Dampaknya Mulai Terasa
Kalau dibiarkan, ini bukan cuma soal rating.
Ada efek yang lebih besar:
- Gamer bisa kehilangan akses ke game tertentu
- Publisher bisa mikir dua kali rilis di Indonesia
- Developer lokal ikut kena dampak
- Trust ke sistem jadi turun
Dan ini bukan hal kecil, karena Steam adalah platform utama.
Kesimpulan: Niatnya Benar, Tapi Eksekusinya Belum Matang
Tidak ada yang salah dengan tujuan IGRS. Sistem rating memang penting, bahkan dibutuhkan.
Tapi yang terjadi sekarang menunjukkan satu hal jelas:
👉 implementasinya belum siap
Karena kalau:
- game dewasa bisa jadi 3+
- game santai jadi 18+
- game “tidak layak” masih dijual
maka sistemnya belum benar-benar bekerja.
Ke depan, yang dibutuhkan bukan cuma aturan, tapi:
- akurasi
- konsistensi
- dan pemahaman konteks
Tanpa itu, IGRS bukan jadi solusi, tapi justru jadi sumber kebingungan baru bagi gamer Indonesia.