Perjalanan sebuah game di platform digital sering kali tidak memberi ruang untuk bernapas. Ketika sebuah judul berhasil menarik perhatian jutaan pemain, tantangan berikutnya justru lebih berat, yakni mempertahankan minat tersebut. Hal ini tercermin jelas dari kisah Grow a Garden, game simulasi kebun yang sempat menjadi ikon kesuksesan di platform Roblox, namun kini mengalami penurunan pemain yang signifikan.
Grow a Garden pertama kali dikenal luas karena konsepnya yang sangat sederhana. Pemain tidak dihadapkan pada cerita kompleks, pertempuran intens, atau persaingan antarpemain. Aktivitas utama hanya berkisar pada mengelola kebun virtual, menanam tanaman, menunggu masa tumbuh, memanen hasilnya, lalu menjual untuk memperoleh mata uang dalam game. Pola permainan seperti ini dirancang untuk santai dan mudah dipahami.
Kesederhanaan tersebut menjadi kekuatan utama Grow a Garden di awal kemunculannya. Banyak pemain Roblox mencari game yang bisa dimainkan tanpa komitmen waktu panjang. Grow a Garden menjawab kebutuhan tersebut. Anak-anak dan remaja menjadi basis pemain terbesar, namun pemain dewasa juga ikut bergabung karena ritme permainan yang tenang dan tidak menuntut konsentrasi tinggi.
Efeknya terlihat jelas sepanjang 2025. Grow a Garden melesat menjadi salah satu game paling ramai di Roblox. Pada puncak popularitasnya, jumlah pemain online bersamaan mencapai sekitar 22,3 juta orang. Angka ini menempatkan Grow a Garden sebagai salah satu game dengan jumlah pemain terbanyak dalam sejarah Roblox. Dalam beberapa periode, jumlah pemain bersamaan tersebut bahkan melampaui capaian game global seperti Fortnite.
Selain dari sisi pemain aktif, total kunjungan Grow a Garden juga mencetak angka yang sangat besar. Game ini telah dikunjungi lebih dari 34 miliar kali. Lonjakan tersebut tidak terjadi tanpa sebab. Algoritma rekomendasi Roblox mendorong game ini ke halaman utama, diperkuat oleh tren game idle dan simulasi yang sedang digemari, serta promosi masif dari kreator konten di media sosial. Dalam waktu singkat, Grow a Garden menjadi salah satu game yang hampir selalu direkomendasikan kepada pengguna Roblox.
Namun, memasuki awal 2026, grafik tersebut berubah arah. Jumlah pemain Grow a Garden menurun tajam. Dari puluhan juta pemain online bersamaan, kini hanya tersisa puluhan hingga ratusan ribu pemain. Penurunan ini tergolong ekstrem dan terjadi dalam waktu yang relatif singkat, menandai berakhirnya fase euforia yang sebelumnya mengelilingi game ini.
Penurunan tersebut mencerminkan karakter dasar ekosistem Roblox yang sangat bergantung pada tren. Di platform ini, perhatian pemain dikenal cepat berpindah. Ketika sebuah game baru muncul dan mulai viral, arus pemain pun bergerak mengikuti tren. Game lama yang tidak menawarkan pembaruan signifikan berisiko tersingkir dari pusat perhatian, meskipun sebelumnya sangat populer.
Dalam kasus Grow a Garden, momentum besar yang sempat terbangun melalui event dan pembaruan tertentu tidak berlanjut secara konsisten. Setelah fase event berakhir, tidak ada inovasi besar yang benar-benar mengubah pengalaman bermain. Bagi banyak pemain, Grow a Garden terasa stagnan dan tidak lagi menawarkan hal baru yang layak ditunggu.
Dari sisi gameplay, kesederhanaan yang dahulu menjadi keunggulan utama justru berubah menjadi titik lemah. Loop permainan yang berulang, menanam, menunggu, memanen, lalu menjual, pada awalnya terasa menenangkan. Namun seiring waktu, aktivitas tersebut dinilai monoton. Minimnya variasi tantangan, tujuan jangka panjang, atau sistem progres yang lebih dalam membuat pemain cepat merasa jenuh.
Persaingan internal di Roblox turut mempercepat pergeseran pemain. Munculnya game viral lain seperti Steal a Brainrot membuat pusat perhatian komunitas berpindah. Pemain Roblox dikenal gemar mencoba judul baru yang sedang ramai dibicarakan. Ketika sebuah game mulai terasa usang, mereka tidak ragu beralih ke pengalaman lain.
Aspek monetisasi juga menjadi perhatian sebagian pemain. Sistem progres yang mengandalkan booster tertentu dinilai membuat pengalaman bermain terasa kurang seimbang bagi pemain gratisan. Kritik ini memperkuat keputusan sebagian pemain untuk meninggalkan Grow a Garden dan mencari game lain yang dianggap lebih ramah.
Apa yang dialami Grow a Garden sejatinya mencerminkan siklus umum game viral di Roblox. Banyak judul lain mengalami pola serupa, naik sangat cepat berkat viralitas, lalu menurun ketika tren bergeser dan inovasi melambat. Roblox bergerak dengan ritme cepat, sementara komunitasnya terus menuntut hal baru.
Meski kini tidak lagi ramai, Grow a Garden tetap tercatat sebagai salah satu fenomena terbesar dalam sejarah Roblox. Kisahnya menjadi pelajaran bahwa meraih popularitas ekstrem bukan jaminan umur panjang. Di ekosistem yang sangat dipengaruhi tren, keberlangsungan sebuah game ditentukan oleh kemampuan untuk terus beradaptasi, menghadirkan pembaruan relevan, dan menjaga minat pemain dalam jangka panjang.